Bagaimana Cara Memahami Islam Sebagai Mabda (Ideologi)


Memahami Islam sebagai agama adalah persoalan mudah. Hal ini disebabkan agama diartikan hanya sebatas sebagai ajaran yang mengatur kepercayaan terhadap suatu Tuhan atau Dzat Yang Maha Kuasa. Agama dapat pula diartikan sebagai ajaran yang tidak membuat kacau (a: tidak, gama: kacau) atau yang membuat ketaraturan.

Persoalan akan menjadi rumit bahkan timbul pertentangan jika kita ingin memahami Islam sebagai sebuah ideologi (mabda). Maka, akan terjadi pro dan konta. Akan ada pihak yang mendukung dan adapula yang akan menentang. Namun persoalan pertentangannya. Tetapi, bagaimana kita memposisikan Islam sebagaimana mestinya.

Ada sebuah cerita. Dua orang pemuda sedang asyik berdiskusi tentang ideologi. Pemuda yang pertama beranggapan bahwa Islam bukanlah sebuah ideologi sedangkan pemuda kedua tetap dengan pemahamannya bahwa Islam adalah sebuah ideologi. Pemuda pertama berargumen bahwa ideologi itu adalah buatan manusia. Sedangkan pemuda kedua menyatakan bahwa ideologi itu bisa saja buatan manusia dan bisa pula berasal dari Tuhan.

Diskusi terus berlanjut dan saling menumpahkan argumen masing-masing, namun tidak ditemukan kesepakatan yang satu antara kedua belah pihak. Pendapat mereka tetap sama, tidak ada yang bergeser dengan pemahaman mereka masing-masing.
Cara-Memahami-Islam-Sebagai-Ideologi

Pemahaman yang berbeda tentu berasal dari informasi yang berbeda hingga membentuk persepsi dan pemahaman yang berbeda. Jadi, kesamaan pendapat akan diraih oleh kedua pemuda itu jika mereka berusaha menggali dulu dan menyepekati informasi awal dan persepsi mereka.

Lantas, bagaimana cara memahami persepsi pemuda yang mengatakan bahwa Islam adalah ideologi?

Cara Memahami Islam Sebagai Ideologi


Pertama, kita ketengahkan dulu defenisi tentang ideologi itu. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ideologi diartikan sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, cara berpikir seseorang atau suatu golongan.

Pengertian selanjutnya, dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, mabda menunjukkan istilah yang digunakan untuk ideologi. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya Al Fikru al Islamiy, mabda merupakan aqidah aqliyah yanbatsiqu ‘anha an nizham. Maksudnya adalah landasan berpikir (aqidah aqliyah) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Lebih lanjut, aqidah aqliyah adalah akidah yang berpijak pada pemikiran yang tuntas menjawab tentang hakikat kehidupan.

Kedua, kita perhatikan pertanyaan-pertanyaan mendasar berikut.

Mengapa ideologi itu berupa landasan pemikiran?
Ideologi menjadi landasan pemikiran dikarenakan ideologi menjadi basis untuk menilai segala permasalahan di dunia. Ringkasnya bahwa dengan ideologi memberikan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi oleh ummat manusia.

Ideologi inilah yang akan dijadikan asas pendapat, tingkah laku, dan pemikiran manusia dalam menilai tentang kejadian dan memberikan arah tujuan hidup.

Jika, ideologi memberikan arah tujuan hidup, berarti ideologi harus menjawab tentang asal kejadian manusia, tujuan hidup di dunia, dan akan kemana setelah di dunia (kematian)?

Ya, ideologi atau agama yang ada di dunia ini pada umumnya telah memberikan jawaban tentang tiga pertanyaan mendasar yang sering dihinggapi pikiran manusia.

Perlu kita ketahui pula, bahwa untuk menjadi sebuah ideologi tidak mesti monopoli sebuah kepercayaan atau agama. Karena pada faktanya, ada ideologi lain selain Islam namun bukan agama yakni ideologi kapitalisme dan sosialisme. Kedua ideologi ini juga mampu menjawab asal kejadian manusia, tujuan hidup manusia di dunia, dan akan kemana manusia setelah mati.

Ideologi itu harus bersistem, memiliki tata aturan?
Islam memberikan aturan yang komprehensif kepada manusia. Aturan itu meliputi aturan bagaimana ia beribadah kepada Allah SWT, bagaimana ia memperlakukan dirinya dan bagaimana ia berinteraksi dengan sesama manusia, termasuk di dalamnya adalah aturan dalam berekonomi, berpolotik, sosial, budaya.

Khusus agama di luar Islam, kita bisa menyaksikan bahwa dalam agama mereka juga diatur tentang tata cara beribadah kepada Tuhannya dan cara berakhlak kepada sesama manusia namun untuk persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya maka kita tidak menemui adanya aturan dan pengaplikasian pemeluk agama tersebut.

Satu poin penting kita dapatkan perbedaan Islam dengan agama lain.

Kemudian kita beranjak kepada ideologi kapitalisme dan sosialisme menyangkut tata aturan. Dalam mengatur hubungan manusia dan sesama manusia, kedua ideologi ini mengatur aturan yang bersumber dari buatan manusia. Sedangkan dalam aturan yang sifatnya ruhani, spiritual maka kapitalisme mengakui adanya pencipta dan siapa saja diberikan kebebasan untuk mengamalkan pemahamannya dalam tataran pribadi. Sedangkan sosialisme hampir sama, namun pada umumnya mereka menolak atau mengingkari adanya agama dalam kehidupan mereka.

Satu poin pertentangan lagi Islam dengan kapitalisme bahwa kapitalisme hanya membolehkan masyarakat untuk mengaplikasikan atau mengamalkan agama dalam ranah pribadi. Sedangkan kita ketahui bahwa Islam tidak hanya mengatur tata aturan yang sifatnya pribadi saja seperti ibadah mahda dan akhlak tetapi juga mengatur tentang ekonomi, politik, sosial dan budaya sehingga kita tidak bisa menemukan Islam ditegakkan jika masih menggunakan platform ideologi kapitalisme untuk mengaturnya. Begitu pun sama saja dengan sosialisme.

Selanjutnya, ideologi itu selain harus memiliki konsepsi juga harus mempunyai tata cara untuk menyebarluaskannya. Dapat kita ketahui bahwa semua agama dan ideologi di atas memiliki cara mereka masing-masing untuk menyebarluaskannya.

Ketiga, dari pembahasan di atas maka dapat kita ketahui bahwa Islam ternyata termasuk dalam ideologi yang ada di dunia. Persoalan yang timbul adalah bahwa eksistensi Islam sebagai ideologi itu belum nampak. Mengapa belum nampak? Hal ini dikarenakan Islam belum mampu untuk diterapkan semua ajarannya. Terutama aspek tata aturan yang menyangkut urusan dengan sesama manusia yakni berupa tata aturan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Pemeluk Islam di dunia dalam hal berekonomi misalnya, pada umumnya menggunakan platform dari salah satu dari dua ideologi di atas. Termasuk dalam politik, sosial dan budaya.

Untuk membuktikan itu, anda boleh bertanya mengapa ajaran Islam tentang hudud dan jinayat tidak pernah anda lihat diterapkan, diamalkan. Mengapa pencuri dan pezina tidak pernah dihukum berdasarkan aturan Islam. Mengapa perekonomian yang seharusnya berbasis emas dan perak tidak pernah anda bisa lihat lagi. Mengapa pengelolaan sumber daya alam yang merupakan kepemilikan ummat tidak diserahkan sepenuhnya kepada negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Maka, hal itu mengindikasikan bahwa ideologi Islam belum tegak secara sempurna.

Pertanyaan selanjutnya, pernahkah ajaran Islam itu sepenuhnya dijalankan secara sempurna? Jawabannya, pernah bahkan pernah eksis dan berjaya hingga tahun 1924 M, yakni mulai dari zaman kenabian Rasulullah SAW hingga runtuhnya institusi negara Islam di Turki. Wallahu 'alam. []

0 Response to "Bagaimana Cara Memahami Islam Sebagai Mabda (Ideologi)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel