NASIONALISME: KNOCKOUT AND KICK OUT (Youfi #8)


Gegap gempita detak jantung sebagian kalangan di bulan Agustus, bersiap untuk sebuah perhelatan. Menghiasi rumah-rumah mereka dengan bendera dan ramai dalam perlombaan. Fragmen warna-warni Agustusan, menyambut kemerdekaan Indonesia. Katanya...

Sob, sebagai pemuda muslim yang gagah, kita sering pula larut dalam suasana ini. Emosi keperwiraan seolah membuncah dalam dada. Aneh! ia muncul tiba-tiba karena lingkungan. Faktor eksternal yang merasuk.

Trus, apakah ini kesalahan?
“kenapa engkau mesti urusi dan kait-kaitkan suasananya. Cinta tanah air kan bagian dari iman?? ”katamu...

Bro, telisik lebih jauh lagi ya. Soalnya, statemen tersebut bukan hadits. Namun, sebuah kedustaan yang disandarkan pada Nabi SAW. Cek lagi ya… :D Okeh Sob. Mari kita berpikir lebih jauh, lebih dalam dan semoga mencapai level berpikir cemerlang dalam melihat rasa cinta kita kepada tanah air atau sering engkau menyebutnya dengan: N-A-S-I-O-N-A-L-I-S-M-E… nasionalisme.

Kita di Indonesia. Dan Insya Allah kita adalah orang Islam (muslim), right? Yuk dipelajari lebih jauh situasi masyarakat global hari ini. Kondisi umat Islam sekarang memilukan.  Pilu itu muncul salah satunya disebabkan oleh nasionalisme. Paham kebangsaan yang  mengotak-ngotakkan kita. Memecah belah masyarakat muslim dunia. Coba bayangkan, populasi ummat Islam sekarang sudah mencapai 1,7 milyar manusia. Mereka hidup  di belahan dunia ini, berada dalam kondisi yang bermacam-macam. Ada yang mayoritas dan ada yang minoritas. Ada yang ramai dalam kesendirian dan ada yang sepi dalam  keramaian.

keharaman-nasionalisme
Kita ummat Islam sekarang terpecah sekitar 50 negara. Lihatlah! ketika muslim mayoritas, eh malah dipaksa untuk menghormati, membolehkan atau membiarkan penyimpangan dan gangguan dari non muslim. Masih ingatkan, kondisi seperti ini dimana? Yup, di Indonesia. Ketika muslim minoritas, ia menjadi bulan-bulanan yang  mayoritas. Disiksa dan dibunuhi karena tetap berada dalam keimanannya. Lihatlah saudara-saudara kita yang berada di Rohingya. Mereka ingin ‘dibumi hanguskan’ di bumi ex Burma itu.

Lihat pula, kondisi komunitas ummat Islam di Eropa dan Amerika. Mereka sedikit,  tapi menjadi bahan ekspose. Kejadian bom Paris membuat mereka (muslim Paris) ramai diperbincangkan dengan perbincangan yang salah. Mereka dipandang dengan pandangan kemarahan. Tersangka utama terorisme kota “fashion”. Pasca kejadian tersebut, terjadi peningkatan serangan terhadap muslim sebesar 110 % sebagaimana dilansir The National Observatory Against Islamophobia. Pada saat yang sama, hal ini semakin memuluskan Barat untuk menyerang ummat Islam di Suriah. Setelah sebelumnya dunia diam  karena Islam diposisikan sebagai ‘tersangka tunggal’ aksi teror tersebut.

Ia sepi dalam keramaian, kurang berdaya bahkan kurang kuasa. Lihatlah di Indonesia, jumlah kita banyak. Namun, toh sosok-sosok Muslim yang baik dan dicintai oleh rakyat tidak nampak dalam permukaan. Diceburin hingga tenggelam oleh persekongkolan jahat. Malah yang muncul sosok non Muslim. Besar karena pencitraan. Tiap hari mata kita dijejali iklan ‘mars’ partainya. Dan adapula yang mahsyur karena katanya tegas. Biar non muslim asal berani, tegas dan tidak korup dibanding Islam tapi maling. Sebuah kesalahan berpikir, logical fallacyyang disuntik ke benak kita.

Sob, masih ingat strategi devide et impera (pecah dan kendalikan)? Ternyata, strategi itu tidak hanya hidup di masa lalu. Ia masih abadi bahkan eksis sampai sekarang. Terkotak-kotakkannya kita dalam format negara bangsa (nation state) adalah bukti nyawa  devide et impera masih ada.Dulu, penjajahan dilakukan dengan fisik. Disiksa, diperintah kanan-kiri, bagai budak belian yang harus menyelesaikan jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan (membentang sepanjang 1.000 km utara Pulau Jawa), bekerja di perkebunan perkebunan Inggris Portugis-Belanda, yang notabene kebun itu masih tanah milik bangsa Indonesia. Ini penjajahan gaya lama (imperialisme). Sangat tidak kita sukai, karena itu adalah penindasan. Namun, coba deh di cek lagi. Ada penjajahan ‘genre’ baru (neo-imperialisme). Lebih halus dan lebih canggih serta susah untuk disadari.

Di bidang ekonomi, Barat bahkan Tiongkok hari ini melancarkan serangan ekonomi (kapitalisme) yang membuat kita menjadi budak dengan menerapkan pemberian utang luar negeri, privatisasi, globalisasi, pengembangan pasar modal, dan sebagainya. Sekedar info, terhitung tahun 2016 ini (era Jokowi) utang luar negeri Indonesia meroket mencapai lebih dari 4.000 triliun rupiah. Di bidang budaya, Barat mengekspor ide-ide kebebasan (liberalisme), permisivisme (serba boleh dalam berbuat) dan hedonisme (memuja kenikmatan jasadi dan materi) melalui film, lagu, novel, radio, musik, internet,  dan lain-lain. Di bidang politik, Barat memaksakan ide masyarakat madani (civil society), demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, dan lain-lain. Jadi, sejauh ini sudah tahu kan siapa biang kerok perpecahan ummat Islam di dunia, yang juga membuka jalan bagi penjajahan gaya baru? Maka dari itu sob, sangat disayangkan jika kita masih getol mengagungkan dan mengeluh-eluhkan: NASIONALISME.

Nasionalisme itu Konyol
Sob¸ nasionalisme jika kita pelajari merupakan suatu ikatan sekelompok manusia berdasarkan kesamaan identitasnya sebagai sebuah bangsa. Tapi pada kenyataannya, ada yang aneh mengenai pengertian bangsa ini. Coba deh dipikir, kesamaan atas nama bangsa kadang bisa berarti pada: kesamaan budaya, ras, suku, klan (hubungan keluarga), bahasa, sejarah dan lain sebagainya. Dalam ilmu politik, dinyatakan oleh seorang ahli yang bernama Benedict Anderson (1999), pengertian bangsa bersifat imajinatif, khayalan.

Menilik pernyataan Benedict tersebut, coba kita lihat penduduk Sumatera bagian timur dengan orang-orang yang ada di Singapura, selatan Thailand, Borneo pesisir (KalimantanBarat dan Brunei) dan penduduk Malaysia, negerinya Upin dan Ipin. Baik secara bahasa, budaya bahkan dalam hal kesamaan suku, mereka semua sama yakni sama-sama suku Melayu. Tapi kenapa mereka dikatakan TIDAK satu bangsa? Orang Sumatera ‘harus dipaksa’ merasa satu bangsa dengan orang-orang timur nusantara baik itu dengan orang Nusa Tenggara, Ambon bahkan dengan orang Papua karena ikatan nasionalisme. Padahal dikatakan tadi, nasionalisme itu dilihat dari kesamaan suku. Aneh dan absurd kan?

“Lah, itulah hebatnya Indonesia. Berbeda namun tetap satu. Banyak suku, ras dan agama namun bisa satu juga.“ katamu lagi. Nih, saya jelasin ya. Dulu,suku-suku dan ras  yang hidup di Indonesia itu bukan disatukan karena nasionalisme. Tapi, malah disatukan  dengan kalimat tauhid, Laa ilaha illallah muhammadur rasulullah. Misal, pada The Java War (Perang Jawa) yang dipimpin oleh pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda, itu bernafaskan semangat jihad. Perang dikobarkan dan digerakkan oleh para ulama. Dalam sejarah Indonesia, perang Jawa merupakan perang terbesar yang pernah ada. Heroik tidak Islam itu…? Belum lagi perang Sabil di Aceh yang merupakan perang terlama di Indonesia, pun juga digerakkan dengan semangat Islam oleh para ulama-ulama. Ini fakta sejarah,  knouckout (KO) deh nasionalisme itu kalah bukti dengan semangat Islam. Ya nggak? Hehehe…

Kick Out Nationalism
Kalo nasionalisme saja KO dalam fakta, itu berarti sudah saatnya kita tendang keluar nasionalisme dari pemahaman kita. Mengapa? Karena nasionalisme itu haram, sob. Ummat Islam itu bukan diikat garis imajiner, bukan pula oleh sentimen dan emosi yang semu. Kaum muslimin adalah satu kesatuan, yang wajib diikat oleh kesamaan aqidah  (iman), bukan oleh kesamaan bangsa. Allah  SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara”. (Al Hujurat : 13)

Lihat pula dalam hadits, “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah(fanatik golongan atau bangsa) dan mati karena ashabiyyah.”  (HR. Abu Daud).

Bro, ashabiyah itu adalah fanatik golongan ama kelompok. Islam melarang ummatnya  bangga dengan golongannya sembari mengacuhkan persamaan dan kesatuan aqidah  (iman). Lebih jauh ya sob, dalam Islam dilarang  berbilangnya seorang pemimpin (khalifah).  Maksudnya, lebih dari satu. “Jika dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir  dari keduanya”. (HR. Muslim).

Baca juga: Agar Tetap Fit dalam Berdakwah, Jangan Remehkan Hal Kecil Berikut

Sob, mulai dari detik ini mari kita tendang keluar (kick out) jauh-jauh nasionalisme di  sanubari kita. Biarlah, Islam di dadaku di dadamu. Islam kebanggaanku juga kebanggaanmu, kebanggaan kita semua.  Firman Allah SWT: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah  untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (QS alAn’am : 162).  Wallahu A’lam. [Indrawirawan]

0 Response to "NASIONALISME: KNOCKOUT AND KICK OUT (Youfi #8)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel